Galvalum dan Galvanis

Galvalum Vs Galvanis (Sumber: Hannstar Industry Company Limited)

Galvalum dan galvanis dapat dikatakan merupakan lapisan pelintung logam, terutama baja yang semakin diminati untuk konstruksi bangunan.

Kendati demikian, keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan, termasuk jika digunakan untuk atap sebuah bangunan.

Itulah mengapa, penting untuk memahami apa perbedaan galvalum dan galvanis serta kelebihan ataupun kekurangan masing-masing.

Apa Itu Galvalum?

Galvalum yang diproduksi dengan proses hot-dip memiliki lapisan dengan komposisi 55% Aluminium, 43,5% Zinc, dan 1,5% Silikon. Artinya, atap galvalum memiliki komposisi tersebut.

Masing-masing komposisi pada galvalum tersebut memiliki fungsi masing-masing, seperti:

  • Ikatan Zinc pada permukaan baja dapat menciptakan penghalang kelembapan penyebab korosi.
  • Aluminium merupakan logam yang secara alami menahan korosi sekaligus memantulkan panas.
  • Silikon akan meningkatkan rekat lapisan, menjaganya tetap di tempatnya saat baja digulung maupun ditekuk.

Apa Itu Galvanis?

Sebenarnya galvanis hampir sama dengan galvalum, dimana lapisannya akan melindungi atap atau material lain dari korosi.

Hanya saja, komposisi galvanis berbeda dengan galvalum. Dimana komposisi yang mendominasinya adalah 97% Zinc, kurang dari 1% Aluminium, sedangkan sisanya adalah logal lain.

Bagaimana Korosi Terjadi pada Keduanya?

Seperti kita ketahui, korosi akan membuat kualitas atap metal menurun. Akhirnya, pelindung rumah ini akan rusak bahkan mengalami kebocoran, terutama saat hujan deras.

Dalam hal ini, galvalum dan galvanis memang akan memegang peran penting. Namun, masing-masing dari keduanya memiliki kemampuan berbeda dalam menahan korosi.

Galvalum memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap korosi karena kandungan aluminiumnya. Sehingga atap  berlapis galvalum lebih lebih tahan lama.

Meskipun ada bagian yang terkena korosi, namun penyebarannya akan lambat lantaran terdapat lapisan aluminium.

Sementara galvanis bukan hanya sekadar melapisi baja. Ikatan kimia yang dihasilkannya pun membuat baja tahan terhadap korosi dan goresan. Bahkan galvanis dapat menyembuhkan dirinya sendiri ketika terdapat goresan atau di sepanjang tepi potongan.

Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, kualitas lapisan galvanis akan menurun. Kemudian korosi akan mudah menyebar pada material, termasuk atap berlapis galvanis.

Berapa Tahun Galvalum dan Galvanis Akan Bertahan?

Untuk mengilustrasikan perbedaan dari kinerja galvanis maupun galvalum, Anda dapat mempertimbangkannya ketika keduanya dilapisi cat dan pelindung lain atau tidak.

Berikut ini merupakan gambaran kinerja atap galvanis ataupun galvalum berdasarkan rentang waktu penggunaanya.

5 Sampai 10 Tahun

Atap galvanis masih terlihat sempurna dan dapat menerima beberapa korosi karena mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Sedangkan atap galvalum sudah menunjukkan adanya korosi pada bagian yang tergores maupun lubang pemasangan atap.

10 Sampai 15 Tahun

Kondisi atap galvalum terlihat sama dan tampak tidak mengalami kerusakan parah. Namun sebenarnya ada bintik-bintik korosi pada beberapa bagian.

Sementara atap baja galvanis sudah menunjukkan usianya. Dimana korosi mulai menyebar ke bagian lain.

20 Tahun

Korosi yang terjadi pada atap galvalum terbilang cukup lambat dan tidak terlalu banyak. Perubahannya pun nyaris tidak jauh berbeda ketika pertama kali dipasang. Namun, Anda mungkin akan melihat patina yang umum pada aluminium yang sudah berumur.

Berbeda denga galvanis. Atap dengan lapisan ini sudah menunjukkan karat karena lapisan seng mulai terkikis, sehingga substrat baja terbuka. Adapun banyak atau sedikitnya karat tersebut tergantung dari faktor iklim.

Lebih dari 20 Tahun

Atap galvanis ternyata lebih tahan lama jika dilapisi cat. Berbeda ketika tidak dilindungi oleh cat, usianya ada pada rentang 15 sampai 25 tahun atau tergantung pada iklim dan lingkungan eksternal.

Seperti ketika atap galvanis digunakan di sekitar pantai, maka korosi lebih cepat terjadi karne kandungan garam yang cukup tinggi.

Sebaliknya, atap galvalum yang tidak dicat justru dapat bertahan hingga 40 tahun. Bahkan, atap dengan lapisan ini juga lebih tahan korosi ketika diaplikasikan pada perumahan di dekat pantai.

Dimana Galvalum dan Galvanis Boleh atau Tidak Boleh Dipasang?

Sudah jelas jika atap galvalum lebih tahan terhadap korosi meskipun berada di lingkungan dengan kadar garam tinggi seperti area pantai.

Namun, galvalum justru tidak tahan korosi ketika dipadukan dan bersentuhan dengan beton atau mortar. Hal ini karena beton dan mortar merupakan lingkungan yang sangat basa.

Berbeda dengan baja galvanis yang berlapis cat maupun yang tidak. Karena ketika material ini bersentuhan dengan beton maupun mortar justru tidak ada masalah.

Perlukah Atap Galvanis dan Galvalum Dicat Agar Lebih Awet?

Pada dasarnya, baik galvalum maupu galvanis dapat dicat untuk meningkatkan ketahanannya. Namun karena cat lebih melekat dengan baik pada galvanis, maka perlu dilakukan pengecatan berulang pada atap galvalum.

Jika korosi cepat ditangani untuk menghentikan penyebarannya atau dilakukan pengecatan saat diperlukan, maka atap galvanis dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun.

Begitu pula dengan galvalum. Meksipun belum berusia 60 tahun, material bangunan ini dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun ketika dicat atau dirawat.

Itulah perbedaan antara galvalum dan galvanis ketika digunakan untuk atap. Masing-masing memiliki rentang waktu ketika digunakan sebagai konstruksi.

Baik galvalum maupun galvanis, keduanya menguntungkan jika digunakan sebagai konstruksi bangunan. Hanya saja, galvalum tidak tahan korosi ketika dipadukan dengan beton dan mortar, namun tetap bagus ketika ada di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Sedangkan galvanis justru kebalikan dari galvalum.

Sumber: https://www.roofingcalc.com/galvalume-vs-galvanized-steel-roofing/

Leave a Reply

Butuh Penawaran / Info Lebih Lanjut?