Katedral Notre-Dame Terbakar: Mengapa Api Sulit di Padamkan?

Katedral Notre-Dame Terbakar

Katedral Notre-Dame Terbakar. 15 April 2019 menjadi sejarah kelam dunia arsitektur. Katedral Notre-Dame  di pusat kota dele de la Cité di Paris mengalami kebakaran hebat tak terkendali. Padahal, sudah hampir seribu tahun mahakarya arsitektur Gotik ini berdiri tegak menjadi kebanggaan dan bagian dari simbol sejarah kota, budaya, dan romantisme tidak saja Prancis, tapi juga Eropa.

Api melalap dengan dramatis pada Senin itu dan ribuan orang hanya bisa berjejer di tepi Sungai Seine sambil menatap tidak percaya bersamaan dengan jutaan mata lainnya dari seluruh dunia, hanya bisa menonton dengan rasa tidak percaya bercampur sedih duka cita.

500 petugas pemadam kebakaran yang dikerahkan hanya bisa menyelamatkan struktur utama dari Katedral Notre-Dame. Adapun puncak menara, atap, jendela, ornamen, dan interior dengan karya seni bersejarah dari bangunan itu harus musnah dilalap si jago merah. Beruntunglah tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Adalah Gregg Favre secara online menjelaskan sulitnya menjinakan api yang membakar katedral Katolik abad pertengahan ini. Gregg adalah mantan Komandan Pemadam Kebakaran St. Louis dan kontributor CNN. Hal tersebut dilakukannya karena jutaan orang menyaksikan operasi upaya pemadaman oleh kru kebakaran di Paris secara real time. Menurut Gregg, banyak faktor dan tantangan yang menyebabkan kesulitan dalam menangani kebakaran struktural besar ini.

Katedral Notre-Dame Terbakar

Katedral Notre-Dame Terbakar

Sudut pandang keahlian Gregg ini kemudian menjadi sumber yang informasi arsitektural untuk masyarakat umum. Gregg menjelaskan bagaimana api membakar gedung, secara rinci aspek-aspek mulai dari desain dengan sains yang bisa dipertanggungjawabkan. Gregg mengidentifikasi masalah pertama yaitu konstruksi. Gereja-gereja tua seperti katedral Notre-Dame ini biasanya dibuat dengan konstruksi kayu berat dan berbentuk ruang terbuka yang besar sehingga sangat Api sangat leluasa untuk berkobar dahsyat.

Ditengarai tidak adanya sistem proteksi kebakaran pasif, maka api dapat dengan mudahnya menjalar ke seluruh bagian gereja dan menjadikan struktur kayu sebagai bahan bakarnya. Biasanya petugas pemadam kebakaran dapat menyelamatkan dinding dan area yang terkena jika api mulai meninggi dan menjilat struktur,. Akan tetapi pada bencana kebakaran Notre-Dame ini, bagian menara puncak tidak dapat diakses melalui atap, sebab 66% atapnya hilang.

Favre menjelaskan bahwa dalam kebakaran semasiv ini, petugas pemadam kebakaran biasanya selalu membuat sebuah “trench cut”, juga dikenal dengan istilah “strip ventilation.” Trench cut ini bentuknya adalah lubang ventilasi sempit dan panjang yang berfungsi sebagai penahan pada atap struktur dari puncak ke selokan sehigga menciptakan chokepoint yang bisa mencegah api menyebar ke area yang belum terbakar.

Pada kasus kebakaran ini, Favre menambahkan bahwa puncak atap Notre-Dame sangatlah curam, dan kondisi ini menyebabkan “trench cut” tidak mungkin untuk dibuat. Sementara itu para petugas pemadam kebakaran juga menghadapi kendala dari peralatan. Bagaimana dengan penumpahan air dari pesawat dan helikopter? Hal tersebut tidak memungkinkah karena kondisi atap yang rapuh, air dari udara haru dikesampingkan, karena berkekuatan yang bisa menghancurkan struktural.

Adapun kait-kait dan tangga guna menyalurkan selang dan pipa air akan sangat susah payah mengapai tepian atap, jika dipaksakan maka petugas harus berjuang menciptakan sudut yang efektif karena ketinggian struktur.

Sulitnya memadamkan api dari bagian luar katedral menyebabkan petugas harus untuk memasuki gedung. Favre menjelaskan, itu justeru akan menciptakan banyak masalah. Peralatan utama untuk operasi pemadaman interior adalah selang besar berukuran 2,5 inchi, dan itu berat, sulit untuk bermanuver, dan sebagian besar tidak efektif dalam kebakaran pada skala Notre-Dame.

Adapun menempatkan para petugas pemadam di dalam gedung juga berisiko kecelakaan, bagian-bagian katedral yang terbuat dari kayu yang berat bisa saja runtuh menimpa mereka.

Katedral Notre-Dame Terbakar

Katedral Notre-Dame Terbakar

Sebagai bangunan yang menjadi simbol sebuah kota besar, Notre-Dame didatangi 80.000 pengunjung setiap hari, tentu bagi petugas pemadam, akuntabilitas dan keselamatan jiwa merupakan perhatian utama. Selain itu, Notre-Dame sedang mengalami renovasi, bisa jadi ada lebih banyak orang berada di lokasi daripada biasanya.

Para petugas pemadam sudah semestinya akan segera mendata semua staf Katedral, pekerja konstruksi, dan pengunjung. Jika jumlah orang-orang yang berada di lokasi tidak terhitung dengan pasti, maka pekerjaan penyelamatan akan lebih rumit dan sulit, terutama mendeteksi prioritas penyelamatan.

Favre juga menjelaskan tentang pertimbangkan sains dalam terciptanya sebuah kebakaran. Ada 4 elemen api, yaitu oksigen, bahan bakar, panas, dan reaksi berantai kimia. Maka cara menghentikan kobaran kebakaran adalah dengan menghilangkan salah satu elemen ini, baik melalui bahan pendingin, mematikan bahan bakar atau menghilangkan oksigen, atau mengganggu reaksi berantai kimia, sehingga kobaran api kebakaran bisa terhenti.

Kobaran api yang melalap Notre-Dame tidak memberikan peluang untuk melakukan salah satu manapun dari elemen tersebut. Mematikan bahan bakar itu tidaklah mungkin karena bahan yang mudah terbakar berada di dalam berupa atap rangka kayu. Intensitas api juga yang sedemikian hebat menjadikan pengendalian panas menjadi terlalu beresiko.

Sementara atap telah lebih dulu habis terbakar, maka masuklah aliran oksigen yang tidak terkendali menuju api, Favre menjelaskan, interior katedral yang terbuka dan luas akan memperparah situasi.

Selain itu, katedral yang tengah direnovasi menjadi kendala lain yang mempersulit petugas pemadam kebakaran. Pekerjaan renovasi sangat memungkinkan adanya bahan konstruksi tambahan yang bisa saja mentenagai api seperti bahan peledak, material sensitif air, dan material jika mengudara.

Secara mendetail Favre mengakhiri penjelasannya bahwa adanya kemungkinan runtuhnya elemen bangunan. Ketika atap dan puncak Katedral jatuh, para kru harus memperkirakan arah runtuh dan jatuh elemen-elemen tersebut.

Menara dan dinding Katedral, meskipun terbuat dari batu, kemungkinan bisa rapuh ketika bagian atap dan menaranya runtuh. Jika ambruk, maka bisa mengarah ke jalur evakuasi di jalan-jalan yang berdekatan, dan itu membutuhkan penempatan para petugas dan kendaraan evakuasi yang cermat. Jika ada risiko api menjalar bangunan di sekitarnya, petugas juga perlu merencanakan cara mengatasi akibat lebih lanjut.

Pada kebakaran skala Notre-Dame ini, Favre menekankan bahwa penangangannya sungguh menjadi sebuah perencanaan yang rumit, bahaya, dengan banyak perubahan variabel yang dihadapi petugas pemadam kebakaran.

Pada akhirnya, petugas pemadam kebakaran Paris, Pompiers de Paris berhasil membuktikan tekad penyelamatan dan kehebatan mereka. Terlepas dari kondisi yang rumit dan berbahaya ini, mereka berhasil mencegah api tidak menyebabkan kerusakan permanen pada Notre-Dame. Mereka berhasil mencegah api untuk tidak menyebabkan runtuhnya struktur utama, atau bahkan menara loncengnya yang sangat ikonik. Sehingga mahakarya arsitektur Gotik yang kuat, yang telah bertahan dari jaman kerusuhan, era revolusi, dan bahkan situasi perang, akan terus hidup untuk bertarung terus di kemudian hari.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.